Selamat Datang di Suaraku dan Seperjuanganku


LCD Text Generator at TextSpace.net





Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Datang di Suaraku dan Seperjuanganku. Inilah suara seorang titisan peniti titian cendikiawan muslim yang terpendam dalam kegelapan pusar yang dalam. Berharap perubahan. Menghasilkan kemajuan.

Disinilah suara sastra sang pengubah dijembatankan. Disinilah aku dan suara yang berseru meneriakkan pendaman yang tertumpuk dalam di palung yang termakan congkak dunia.

Walau terminoritas dan tertindas, kita bisa berubah, kita bisa berseru dalam gemuruh yang menjadi satu. Walau hanya gemerutu yang tertumpu, kita bisa berseru, bersatu, tanpa ragu maju dalam ideologi yang terpaku kuat dalam keinginan yang terisirat.

Selamat Membaca.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.








>NB : Mohon ma'lum atas kekurangan fasilitas karena gangguan teknis abadi. Kalau ada yang ingin memberikan komentar, masukan, saran, kesan, dan pesan harap kirim ke: adlan.hendarji71@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Maret 2009

Laila dan Majnun

Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiIiki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”

Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”

Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telahmemperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.

Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.

Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-”Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.

Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba
waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.

Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.

Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”

Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun. Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun
duduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.

Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.

Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.

Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad embantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.

Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang cintanya.

Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu.

Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi.
Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah
Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali
detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan
lupa waktu.

Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di
luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah
seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan
kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila,
maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dan
kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya.

Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap
pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah
Laila, bahkan
dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan
bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama
lain, sungguh ia salah besar.

Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk
mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah
kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun
disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang
tentang kebahagiaan anak-anak mereka. Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau
tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu
“Cinta dan Kekayaan”.

Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku
sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia
dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya aku
menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan
terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku
kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya.
Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi dan
iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan
kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku,
akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”

Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu
anaknya adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak
yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang
dapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya.
Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan
diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,”
pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”

Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta
makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu,
gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa
mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnun
diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan
sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagai
kesamaan dengan yang dimiliki Laila.

Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya
punya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip
Laila. Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya,
Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu
hanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang
dan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusaha
mengelabuinya.

Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya
sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga
akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini,
ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah
dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang
menghancurkan ini.

Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah,
tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para
Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal
saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa,
cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi
yang bisa ia lakukan untuk anaknya.

Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang
banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia
tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal
direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal
didalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang
Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya.
Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa
Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan
bumi.

Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada
sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan
rambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya
compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak
beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di
kakinya. “Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan
pandangan ke arah kejauhan.

Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa
yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu
bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya
dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitan
menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam
kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga
lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buas
itu.

Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui
bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas
seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang
musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada
Laila. Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sang
musafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya.

Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya,
sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir
ke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan
bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk
menjemputnya.

Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah
Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya
terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar
Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang
ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat
persembunyiannya. Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai
ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong
lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan
beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk
mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuan
terakhir mereka.

Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani
situasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh
keluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat
Laila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia
berpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya.
Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubah
syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika ia
diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertas
kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalam
potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan cara
demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.

Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang
mengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu
bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya
melantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.

Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu
tentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan
kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah
seorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalam
perjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat
terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.

Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga ia
bersumpah dan bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua
kekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya!
Kaetika Amr kembali ke kota kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan
ini berangkat menuju desa Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak
orang yang terbunuh atau terluka.

Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan
pesan kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan
putriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin
membunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah
bisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila itu”.
Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medan
pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajurit
dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat mereka
dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.

Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa
ia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa
kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikian
bersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yang
dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun
memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa
mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.

Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia
nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya
menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan
serta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari
ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru saja
menimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun menyetujui
perkawinan itu.

Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih
senang mati ketimbang kawin dengan orang itu.” Akan tetapi, tangisan dan
permohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja
keadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Laila
merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga.

Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa
mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena
itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin,
masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.” Sekalipun mendengar
kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa
waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksa
Laila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.

Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan
meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat
hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut
menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang
berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannya
ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan
ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terus
tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malah
menjadi semakin lebih dalam lagi.

Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas
perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya
meminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku,
sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah
lupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya
akan memanggil-manggil namamu, Laila”.

Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda
pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam
hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian
lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu
ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau
membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu” . “Kini, aku harus
menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik
orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk
cinta, engkau ataukah aku?.

Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap
tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang
sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat
binatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkan
syair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunya
pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah.
Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapai
kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang
sanggup mengusik dan mengganggunya.

Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil
mendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian
dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam
sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa
pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya.
Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakan
hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luar
dengan Laila.

Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia
ditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat
singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab
hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya, pada suatu pagi di musim
panas, ia pun meninggal dunia. Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngaduk
perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibn Salam,
padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lama
dirindukannya.

Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya
sekali saja ia menangis. Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya
dengan kekasih satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah
ayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana,
yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya. Semen tara api cintanya makin
membara, kesehatan Laila justru memudar karena ia tidak lagi memperhatikan
dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur dengan baik selama
bermalam-malam.

Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya
hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup
bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa
bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia
masih memikirkan Majnun. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi
untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu
kalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia
akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatu
malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal
dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun. .Majnun.

Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama
kemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu,
ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri
selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju
desa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atas
tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luar
kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.

Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya,
per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal
dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama
setahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan
kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas
kuburan Laila. Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu
adalah jasad Majnun yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di
samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini
bersatu kembali.

Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadir
di hadapan Tuhan. Allah swt membelai Majnun dengan penuh kasih sayang dan
mendudukkannya disisi-Nya.Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, “Tidakkah
engkau malu memanggil-manggil- Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminum
anggur Cinta-Ku?”

Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Majnun diperlakukan dengan
sangat baik dan penuh kasih oleh Allah Subhana wa ta’alaa, ia pun
bertanya-tanya, lantas apa yang terjadi pada Laila yang malang ? Begitu pikiran
ini terlintas dalam benaknya, Allah swt pun mengilhamkan jawaban kepadanya,
“Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia
Cinta dalam dirinya sendiri.”

Wa min Allah at Tawfiq

Diambil dari Negeri Sufi ( Tales from The Land of Sufis )

Senin, 29 Desember 2008

Cerita Orang Gila

Ada 26 orang gila, mereka mau di uji kesehatan mentalnya di Amerika.
Mereka diangkut memakai pesawat Hercules yang besar!
Saat di udara, orang2 gila itu berisik karena bermain bola di dalam pesawat.
Sang kapten marah dan menyuruh co-pilot untuk menenangkan mereka.

"Hoi! Berisik banget sih! Jangan main bola di dalem pesawat dong!!!", bentak co-pilot kepada orang2 gila.

Akhirnya situasi menjadi tenang. Tapi lama2 si kapten curiga karena situasinya terlalu tenang. Dia menyuruh lagi co-pilotnya untuk cek ke belakang.
Ketika co-pilot datang, dia kaget setengah mati. Orang gilanya tinggal 4 orang!!!

"Hei, kalian! Koq tinggal ber-4? Yang lain kemana?"

"Abisnya ga boleh main bola di dalam kapal sih. Mereka jadi main bola di luar."

"HAH?! Terus, kalian kenapa bisa ada di dalam?"

"Kan kita pemain cadangan..."

Profil SMA Islam Al-Azhar 4

Sejarah Al Azhar Sejarah pendidikan Islam memiliki kaitan yang sangat erat dengan masjid. Karena itu bila membicarakan masjid, berarti membicarakan suatu tempat yang dipandang azasi untuk menyiarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Jamaah yang duduk melingkar di masjid, merupakan lingkaran-lingkaran pengajaran (halaqah) yang diadakan di masjid-masjid semenjak masjid didirikan. Keadaan seperti itu berjalan terus sepanjang tahun dan tiada putus-putusnya diseluruh negeri muslim. Pada masa Rasulullah SAW hingga Khulafaur Rasyidin (632 -661M) tempat belajar berlangsung di Masjid Nabawi. Kemudian pada masa Bani Umayah dan Bani Abbas, kendatipun ilmu pengetahuan telah berkembang dalam berbagai cabang, namun masjid masih tetap menjadi tempat yang baik untuk belajar. Apalagi masjid-masjid masa itu, sudah dilengkapi dengan ruang belajar, ruang baca dan ruang perpustakaan. Para ulama dan sarjana mengajar dengan sistem halaqah seperti di Masjid Al Haram Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, serta masjid-masjid di Baghdad, Kufah, Bashra, Damascus, dan Kairo. Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri Islam lainnya, seperti Spayol, Afrika Utara, Persia, India hingga Indonesia. Di Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru Jakarta, keadaannya juga tidak berbeda dengan negeri-negeri Islam lainnya. Sehabis Subuh Imam Besar, Buya Hamka menggelar pengajian, mengupas isi kandungan Al Qur’an di depan para jamaah yang duduk bersila mengelilinginya. Sedang sore harinya, anak-anak kecil belajar membaca dan menulis Al Qur’an. Mereka duduk bersila di depan kitab suci Al Qur’an yang diletakkan di atas rehal masing-masing. Lambat laun , anak-anak yang mengaji terus bertambah. Materi yang diajarkan tidak lagi hanya membaca dan menulis Al Qur’an, tapi juga Al Hadits, karena keduanya merupakan sumber utama Agama Islam. Juga belajar tauhid, ibadah, akhlak serta tarikh. Lantas duduknya tidak lagi bersila di depan rehal, melainkan di bangku-bangku panjang dari kayu. Salah seorang jama’ah Masjid Agung Al Azhar, Abdullah Hakim, kala itu mengusulkan (Maret 1963) agar pengajian anak-anak sore hari ditingkatkan mutu dan penyelenggaraannya, yaitu dengan membentuk suatu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdiri dari TK, SD, SLTP, SMA bahkan sampai ke Perguruan Tinggi. Akhirnya pada tahun itu pula, 1963 Sekolah Islam Sore, sejenis Madrasah Diniyah yang kelak diberi nama Pendidikan Islam Al Azhar (PIA) pun dibuka. Disusul berikutnya, awal Agustus 1964, TK Islam Al Azhar dan SD Islam Al Azhar. Kemudian SLTP Islam Al Azhar (1971), serta SMA Islam Al Azhar (1976) dan Universitas Al Azhar (2000). Sewaktu mencatatkan pendirian Yayasan Pesantren Islam Al Azhar pada hari Senin, tanggal 7 April 1952, telah disepakati maksud dan tujuan Yayasan adalah:”Membina dan mengembangkan pendidikan Islam dalam arti kata yang seluas-luasnya serta meningkatkan mutu dan menyebarkan syiar Islam, baik melalui media pendidikan, dakwah, bimbingan ibadah, seni budaya dan lain sebagainya, serta membentuk masyarakat yang berilmu, beramal dan bertaqwa kepada Allah, cinta bangsa dan negara serta bergerak di bidang social dalam rangka Izzul Islam wal Muslimin”. Kini Masjid Agung Al Azhar di Kebayoran Baru telah tumbuh menjadi Masjid yang benar-benar agung, indah dan megah. Al Azhar sebuah nama yang dinisbatkan kepada Fatimah az Zahra, putri Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallama, adalah nama yang diberikan kepada Masjid Agung Kebayoran Baru Jakarta oleh Syeikh Jami’ Al Azhar, Kairo yaitu Bapak Prof. Mahmoud Syaltout sewaktu beliau berkunjung ke Indonesia pada tahun 1960 ketika menjadi tamu Negara. Kini Al Azhar telah berkembang pesat dan mengepakkan sayapnya hingga di seluruh tanah air. Bukan hanya di jalan Sisingamangaraja Kebayoran Baru atau DKI dan sekitarnya saja tetapi telah meluas sampai ke Bekasi, Tangerang, Serang, Bogor, Cianjur, Bandung, Cirebon, Sukabumi, Cilacap, Semarang, Solo, Salatiga, Jogjakarta, Surabaya, dan Pontianak. Jumlah TK I Al Azhar seluruhnya ada … sekolah, SD I Al Azhar ada 31 sekolah, SMP I Al Azhar ada 19 sekolah, SMA I Al Azhar ada 6 sekolah dan sebuah Universitas Al Azhar Indonesia (UIA). Sejarah SMA I Al Azhar 4 Bekasi SMA I Al Azhar 4 dibuka pada tahun 1995 dengan jumlah murid 79 orang, berlokasi di SMP I Al Azhar 6 Jakapermai lantai tiga. Dipimpin seorang Kepala Sekolah bernama Drs. Santoso, dibantu 15 orang guru yaitu H. Sachrodji, H. Tobrani ,H. Rujito Alm., Hj. Nita Noriko, Akhmad Faizin, Ayub Ardiyandi, Purnomowati, Ai Kiki Rokibah, Untari, Abdullah Hafidzi, Tri Sadono, Abdur Razak, Isma L, Ade Budi M, dan seorang pegawai tata usaha yaitu Zaiddun An Annadwi serta petugas kebersihan yaitu Mamat Muhyiddin. Tahun ke dua lokasi SMA I Al Azhar 4 pindah ke SD I Al Azhar 9 Kemang Pratama lantai tiga, dengan jumlah murid 160 orang dan pada tanggal 2 Mei 1996 keluar SK Kepala Depdikbud Propinsi Jawa Barat, Nomor:27/1.02/Kep/OT/1996. Kemudian pada tahun ketiga SMA I Al Azhar 4 sudah menempati gedung baru berlantai empat, meski masih tahap finishing dan bersamaan dengan itu (TP 1997/1998) untuk pertama kalinya sekolah menyelenggarakan EBTA / EBTANAS dan bergabung dengan SMAN 6 Bekasi. Al Hamdulillah hasilnya lulus 100%, sehingga TP. 1998/1999 sudah diizinkan melaksanakan EBTA/EBTANAS secara mandiri, dan hasilnya juga lulus 100%. Namun yang lebih membanggakan adalah SMA I Al Azhar 4 di tingkat kota Bekasi dapat menduduki peringkat terbaik 1 untuk IPS dan peringkat 2 untuk IPA berdasarkan rata-rata hasil ujian nasional. Setelah bisa menyelenggarakan ujian mandiri, datang team penilai dari Kanwil Dep. Dikbud Propinsi Jawa Barat untuk melakukan akreditasi ke SMA I Al Azhar 4. Mereka melakukan penilaian terhadap 7 komponen sekolah. Yaitu 1) Administrasi sekolah, 2) Kelembagaan, 3) Ketenagaan, 4)Kurikulum, 5) Siswa, 6) Sarana Prasarana, 7) Situasi umum. Hasil penilaian itu menunjukkan SMAI Al Azhar 4 Bekasi memperoleh nilai 93. Dengan penilaian yang cukup tinggi itu, maka pada tanggal 27 September 1999, Depdikbud telah memberikan ”Piagam Jenjang Akreditasi Disamakan kepada SMUI Al Azhar 4, yang berlaku hingga tahun 2004. Drs. Cecep Kurnia Sogoz yang menggantikan posisi Drs. Santoso sebagai Kepala Sekolah bersama dewan guru dan Yayasan Waqaf Al Muhajirin Jakapermai terus memacu agar sekolah yang dibinanya semakin berkualitas, baik secara akademis maupun non akademis. Buah dari kesungguhan seluruh komponen sekolah, memperlihatkan hasilnya, seperti dalam seleksi murid Teladan se Propinsi Jawa Barat sejak Juli 2000 hingga sekarang tahun 2006 selalu mendapatkan predikat Murid Teladan I, termasuk guru-gurunya pun mendapatkan predikat yang sama. Prestasi lainnya, seperti meraih Karya Cipta Terbaik I dalam lomba Karya Ilmiyah Remaja Duppont Science Fair LIPI Se-Indonesia November 1999, Jurara II Penulisan Esai Hubungan Indonesia Jepang, Tingkat Nasional Januari 2001, Juara III Seleksi Lomba Karya Ilmiyah se Indonesia dalam Asian Physics Olimpiade April 2000. Dalam hubungannya dengan institusi luar negeri, SMA I Al Azhar 4 selalu menjadi tempat bagi para pelajar asing yang melakukan home stay di Indonesia untuk beberapa bulan hingga satu Tahun Pelajaran, mereka ada yang berasal dari Denmark, Belgia, Belanda, Mesir dsb. Bahkan pada tanggal 11November 2006 kemarin, SMA I Al Azhar 4 menerima kunjungan Rektor Kwung Syung University yang sengaja datang dari Korea Selatan untuk menjalin kerja sama di bidang Media Pembelajaran. Dalam pengembangan bakat, potensi atau prestasi non akademis, seluruh peserta didik SMA I Al Azhar 4 dapat menyalurkan dan mengapresiasikan lewat kegiatan-kegiatan ekskul seperti Broadcast, Sepak Bola, Bola Basket, Bahas Mandarin dan Jepang, Musik, Al-Azhar Seni Bela Diri (ASBD), Tae Kwon Do, PMR, Paskibra, KIR, Teater, KPI, Kombuser, Marawis, dan Tari Saman. Dari kegiatan ekskul ini banyak prestasi yang telah diukir untuk SMA I Al Azhar 4, sehingga tidaklah berlebihan jika Tari Saman SMA I Al Azhar 4 pernah menjadi duta budaya untuk negeri jiran Malaysia.

Senin, 27 Oktober 2008

Bendera Setengah Tiang

Musuh. Mungkin itulah anggapan mereka terhadap kami. Tapi yang pasti kami musuh para hakim yang merasa berkuasa untuk memvonis benar tidaknya sebuah perkara. Mungkin kami memang musuh. Tapi bukan musuh para aparat meskipun harus sering berhadapan dengan mereka. Juga bukan musuh anggota dewan walaupun gedung itu terlalu sering kita satroni. Pun, kami bukan musuh seorang presiden meski namanya sering tertulis di poster-poster yang kami usung. Musuh kami adalah setiap kedzoliman. Lawan kami adalah tirani. Pemberontakan kami hanya tertuju pada semua ketidakadilan. Siapapun pelakunya!!
Wajah-wajah itu terlihat semakin tegang di bawah sengatan terik matahari. Muka hitam mereka berlipat dibalik helm besar. Mata mereka menyipit tajam, menahan silau matahari yang menerobos kaca gelap helm. Sebuah pentungan kayu tergenggam erat di tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Beberapa kawat berduri tak kalah rapi berbaris di sebelah kiri mereka. Kawat itu siap menyambut siapa saja yang berani menerobosnya. Di tempat yang agak jauh tampak gas air mata dan water canon memperlengkap ketegangan. Sungguh sebuah pasukan yang terlalu lengkap untuk sekedar menghadapi musuh yang berjumlah tujuh puluhan mahasiswa tanpa senjata.

Seorang mahasiswa muncul dari ujung kanan barisan. Saat langkahnya berhenti tepat di depanku, barulah aku mengenalinya sebagai Sandy, ketua BEM universitasku. Sebuah megaphone tersangkut lunglai di pundak kirinya. Matanya mengecil mencermati barisan dari ujung kiri ke ujung kanan. Topi yang menutupi sebagian rambutnya tak mampu menghalau cahaya matahari yang menyipitkan mata.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh!“ Suaranya tenang, memecah bising kendaraan yang lalu lalang di sekitar barisan.
“Sebelumnya kami mohon maaf kepada pengguna jalan, karena mungkin keberadaan kami mengganggu aktivitas bapak ibu sekalian. Tapi yakinlah, insyaallah keberadaan kami di sini juga dalam rangka memperjuangkan nasib bapak-ibu sekalian.“
“Hidup mahasiswa!“
“Hidup mahasiswa!“
“Allahuakbar!“
“Allahakbar!“
Tangan-tangan mengepal, membangun semangat agar tak luruh bersama tetesan peluh.
“Bapak-bapak polisi yang terhormat, kami sadar bahwa Bapak hanya melaksanakan tugas untuk menjaga ketenangan dan keamanan. Begitupun kami di sini. Kami sedang mengemban sebuah tugas besar. Sebuah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan. Telah mejadi kewajiban kami untuk mengingatkan bapak-bapak yang duduk di kursi panas kantor dewan agar mereka bekerja seperti yang diamanatkan rakyat. Bukankah demikian saudara-saudar?!“
“Betuu…ul!!..“
“Tapi apa yang kita lihat? Ternyata BBM terus menanjak! Koruptor masih berkeliaran dengan tenang! Bencana terus mendera. Kapan negri ini tenang? Kapan negri kita yang kaya ini makmur? Kapan rakyat dapat sekolah dengan nyaman? Kapan kita bebas dari cengkraman hutang?“
“Hidup mahasiswa! Hidup mahasiswa!“
“Allahuakbar!!“
“Allahuakbar!!“
Tangan-tangan kembali terangkat. Mengepal ke udara. Bendera-bendera berkibar. Panas matahari kian merekah. Angin berhembus, menyambut bahana takbir yang menggema.
“Bapak-bapak yang terhormat, kami adalah anak negri yang cinta damai. Kami adalah generasi bangsa yang cinta tanah air. Tapi kami lebih mencintai keadilan. Kami lebih mencintai saudara-saudara kami yang kelaparan. Anak-anak yang terlantar. Maka ijinkan kami mengadukan nasib mereka ke bapak-bapak yang ada dalam gedung dewan!”
“Bagaimana saudara-saudara?! Apakah kita siap memasuki rumah rakyat ini?!”
“Siaa..aap!!” Pandangan Sandy beralih ke barisan polisi yang setia mengawasi semua tingkah polah kami. Dengan sopan Sandy mengarahkan megaphone ke arah deretan bapak-bapak yang berseragam cokelat.
“Bagaimana, Bapak-bapak polisi? Apakah kami diijinkan masuk ke gedung ini?“ Tak ada jawaban. Hanya tatap mata mereka dari balik helm hitam mereka.
“Baiklah, kita beri kesempatan kepada bapak-bapak polisi untuk berpikir. Sambil menunggu teman-teman kita bernegosiasi, mari kita lantunkan mars perjuangan kita.“
Sambil bernasyid sesekali kami melompat-lompat untuk melakukan pemanasan. Tak peduli suara pecah kami yang terdengar. Kami memang tidak sedang konser nasyid. Karena kami bernasyid untuk menumbuhkan gelora semangat agar mengalir di setiap nadi kami. Di sela-sela bernasyid, kucoba melirik jam yang melingkar longgar di pergelangan tangan kananku. Hampir jam 11. Tepatnya 10.50. Sepertinya agenda aksi molor dari rencana semula. Kulemparkan pandanganku pada gerombolan mahasiswa yang bernegosisasi dengan beberapa aparat. Wajah-wajah mereka sangat serius. Sesekali Mata Sandy bertemu dengan salah seorang dari mereka.
Tanpa sadar, acara bernasyid telah selesai. Dan konsentrasiku kembali terpusat pada Sandy yang telah siap dengan megaphonenya. Panas. Peluh-peluh mengalir teratur. Tetes demi tetes, menanti kepastian dari pimpinan aparat berseragam coklat.
“Baiklah, teman-teman, sejenak kita dengarkan sebuah puisi dari saudara Rahman.“ Seorang mahasiswa menerobos maju dari tengah-tengah barisan. Sebuah ikat kepala terikat rapi menutupi sebagian rambut di keningnya. Tangan kanannya menerima megaphone dari Sandy. Setelah megaphone terpasang, tangan kirinya merogoh saku alamaternya. Sebuah kertas yang telah terlipat kusut terangkat. Dengan tangan agak tergetar, ia pun memulai puisinya.
“Sebuah Cerita dari Negri Harapan“
Hening. Semua mata, termasuk para aparat tertuju pada Rahman. Rahman pun melanjutkan puisinya.
Kudengar negri itu begitu kaya
Kudengar, tanah itu sangatlah suburnya
Kudengar jamrud itu amatlah eloknya
Kudengar gemericik air dengan jernihnya
Kudengar kicau burung nan riang dari langitnya
Sungguh, negri dengan sejuta pesona
Hamparan tanah dengan timbunan harta
Bangsa yang terkenal ramah bretatakrama
Sungguh, persada yang menjadi surga dunia
Tapi sayang…..
Apa yang kulihat tak seindah yang kudengar
Apa yang kusaksikan tak seindah khayalan
Telingaku tuli mendadak tanpa bisa mendengar
Lidahku kelu tanpa bisa merasa
Jantungku terhenyak tanpa detak
Hanya mata….
Hanya mata yang terbuka
Terpana ……….
Menyaksikan derai air mata di negri katulistiwa
Menyaksikan kobaran api kekuasaan di sela gemericik air sejuknya
Menyaksikan burung-burung sekarat kelaparan di ranting-ranting rindangnya
Menyaksikan ceceran darah jelata di mulut pongah penguasa
Inikah negri harapan itu?
Inikah surga dunia itu?
Ooo… Tuhan
Aku luruh, bersimpuh dalam rapuh
Ooo.. Tuhan
Aku akan berteriak dalam kebisuan
Dengan jutaan selaksa harapan
Dengan tangan-tangan yang terus terkepalkan
Dengan segenggam keyakinan
Bahwa semua akan berakhir dengan kemenangan
Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Rahman melipat kembali kertasnya dan memasukkan ke saku almamaternya. Ia melangkah ke tengah-tengah barisan setelah menyerahkan megaphone ke Sandy.
“Komando saya ambil alih kembali.“ Mata Sandy memastikan bahwa semua masih dalam kondisi terkendali. Sebuah kode kutangkap saat mata Sandy saat matanya bersiborok dengan beberapa mahasiswa yang baru menyelesaikan negoisasi.
“Alhamdulillah, sepertinya bapak-bapak polisi yang kita cintai memperkenankan kita masuk ke gedung dewan tepat jam 11.30“ Sekilas mata Sandy melirik lagi ke gerombolan negosiator. Tak lama kemudian, enam orang mahasiswa dengan tiga almamater berbeda melintas di depanku dan bergabung dengan barisan.
Sambil menunggu waktu, beberapa mahasiswa melakukan orasi bergantian. Jam di tanganku serasa berjalan lambat. Menunggu detik-detik ke angka 11.30.
“Allahuakbar!“ Telunjuk Sandy terangkat bersama takbirnya. Tepat jam 11.30.
“Allahuakbar!“ Kami pun menyambut takbir Sandy dengan merapatkan barisan. Tangan-tangan saling bergandengan. Siap-siap menyambut komando berikutnya. Beberapa polisi tampak berbisik-bisik dengan tatapan curiga.
Perwakilan mahasiswa telah berada di depan pagar masuk. Beberapa orang tampak sibuk membuka pitu pagar gedung yang terkunci.
“Allahuakbar!!“ Kali ini tangan Sandy terkepal. Dan itu berarti kami harus bergerak cepat menyusul teman-teman kami yang hampir masuk ke gedung.
Situasi langsung berubah. Aparat segera bergerak cepat. Barisan kami tepat di belakang para negosiator. Beberapa polisi berteriak agar kami mundur.
“Mundur!! Semua mundur!“
“Siapa yang mengijinkan kalian masuk??!!!“ Sepasang mata garang menghadang di depan barisan. Tampangnya bersungut. Helaan nafas sengalnya terdengar jelas.
Barisan terhenti sejenak. Sandy mencoba mencoba mengendalikan suasana. Barisan polisi pun tak kalah kaget. Beberapa orang polisi saling berbisik satu sama lain. Semua waspada.
“Saudara-saudara sekalian, kita tenang sebentar. Jangan terprovokasi oleh siapapun! Ingat hanya ada satu komando!“ Sandy mondar-mandir di depan barisan. “Barisan rapikan kembali! Ayo rapikan! Kita ke sini untuk menyampaikan isi hati dan jeritan rakyat. Kita datang tidak untuk mencari musuh! Kita juga tidak suka dengan segala bentuk anarkisme!“
“Sepakat!“
“Sepakat!“
Seorang mahasiswa maju menerima megaphone dari Sandy.
“Saudara-saudara sekalian. Saya hanya ingin menyampaikan hasil negosiasi kita dengan bapak-bapak aparat yang terhormat. Bahwa dari negosiasi tadi kita diijinkan masuk jam 11.30. Tapi entah alasan apa, ketika kita masuk ternyata dilarang.”
“Huu…..uuu!!!”
“Polisi payah!”
“Penipu!”
“Pembohong!”
Panas. Matahri semakin terik. Bau keringat semakin tengik.
“Masuk! Masuk! Masuk!“ Teriak kami kompak menyaingi sumpah serapah para polisi.
“Tenang!! Semua tenang!!” Sandy berteriak keras. Seorang mahasiswa tampak mendekat dan berbisik di telinga Sandy.
“Saudara-saudara, apakah kita rela kalau di bohongi??!!”
“Tidaa….ak!”
“Apakah kita mau di tipu lagi??!”
“Tidaa….ak!”
“Kalau bapak-bapak kita sudah berani membohongi kita, mereka akan pasti lebih berani membohongi rakyat. Betu….ul?!“
“Betuu….ul!“
Seorang polisi tampak tersinggung. Tangannya mengangkat pentungan. Namun polisis lain mencoba menahan.
“Gedung ini milik siapa?“
“Rakyat!“
“Dan kita siapa?“
“Rakyat!“
“Tiga langkah ke depan, jalan!“
Barisan bergerak kompak.
“Satu. Dua. Tiga!“
Jarak barisan dengan polisi tinggal 2 meter. Beberapa polisi kembali waspada. Ada yang mermas-remas tangan, ada yang semakin erat memegang tameng dan pentungan.
“Maju satu langkah!“
“Satu!“
“Mundur dua langkah!“
“Satu! Dua!“
“Tiga langkah ke depan!“
“Satu! Dua! Tiga.“
Jarak kami dengan polisi semakin dekat. Wajah-wajah lelah pun semakin jelas terlihat.
“Tiada kata lagi…“
“Kami takkan kembalii..“
“Tiada kata lagi…“
“Kami takkan kembalii..“
“Mundur! Mundur!“ Teriak seoarang polisi yang tepat di depan pagar masuk.
“Bagaimana teman-teman?!“ Sandy berteriak dengan serak.
“Masuk! Masuk!“
“Maju dua langkah!“
“Satu! Dua!“
Jarak kami dengan barisan polisi hanya dua langkah. Kami semakin waspada. Barisan di seberang kami juga semakin siaga. Tangan-tangan kami semakin erat berpegangan. Lantunan dzikir terus kami kumandangkan.
“Satu langkah ke depan!“
Kaki kami hampir melangkah, namun gelombang barisan di depan menghambur dan mendorong barisan kami. Aksi saling dorong tak dapat dihindari. Aku terjepit di antara tubuh berat aparat. Tangan-tangan kekar itu mencoba mencerai-beraikan barisan. Dengan pentungan, dengan tameng, dengan sumpah dan umpatan. Beberapa mahasiswa terkena pentungan. Jeritan takbir dan makian kasar menyatu di udara.
Sekelompok mahasiswa berhasil mendekati pagar. Mereka berjuang untuk membuka pagar masuk ke gedung dewan. Sementara aku dan teman-teman sibuk mempertahankan barisan.
“Cepat masuk!“
Rupanya pagar telah terbuka. Tepat di tengah-tengah pagar, beberapa mahasiswa berhenti dan siap menanggung resiko terberat, termasuk jika harus terjepit pagar.
Sebuah sirine memaksa para polisi menghentikan pekerjaannya.
„“Berhenti! Tenang! Tenang!“ Sebuah komando dari seorang polisis berpangkat…….. Beberapa orang polisi yang baru datang, menarik tangan rekannya agar tidak lagi memukuli mahasiswa.
“Biarkan mahasiswa masuk!“
“Allahuakbar! Allahuakbar!“ Takbir langsung menggema menyambut komando dari si ……….
Dengan sedikit alot akhirnya barisan kami dapat masuk. Beberapa mata polisi masih tak dapat menyembunyikan kekesalannya. Gelombang barisan mahasiswa segera menerobos pagar menuju halaman gedung.
“Terimaksih, bapak-bapak yang kami cintai. Akhirnya kami diijinkan masuk ke halaman ini.“ Dika menggantikan Sandy yang telah kehabisan suara.
“Kami berjanji tidak akan merusak apapun! Bahkan bunga-bunga dan tumbuhan lain di gedung ini tidak akan kami sakiti. Sepakat teman-teman?!“
“Sepakat!“
“Baiklah. Sesuai dengan rencana semula kali ini kita mengharap pimpinan Dewann yang terhormat bersedia menemui kami. Kami ke sini hanya ingin menuntut sebuah keadilan. Kami datang hanya ingin mendapatkan kebenaran. Mengapa di tanah subur ini masih banyak yang kelaparan? Mengapa di negri yang kaya ini masih banyak kemiskinan? Mengapa di tanah yang hasil buminya melimpah semua harus mahal? Tapi mengapa masih ada yang bebas berkeliaran keluar negri? Juga masih ada yang tega melakukan korupsi?“
“Allahuakbar!“
“Allahuakbar!“
“Apa mereka tak melihat rakyat yang dilanda bencana bergantian? Yang tak punya rumah? Tak punya harta, juga saudara. Di mana nurani mereka? Ke mana hati mereka?“
Dika melihat jam tangannya, kemudian pandangannya menyebar ke sekeliling.
“Baiklah kawan-kawan. Karena hari semakin siang dan pimpinan yang kita tunggu belum menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Sesuai agenda kita acara ini kita akhiri dengan teaterikal sebelum ditutup dengan do’a.“
Aku melihat sekeliling, mencari beberapa orang. Segera aku maju dan diikuti tiga orang yang lain. Sebuah keranda yang dibungkus kain hitam kami letakkan tepat di bawah tiang bendera. Aku maju menuju tiang bendera. Segera aku membuka ikatan tali pengerek. Setelah itu aku menengadah, melihat merah putih yang berkibar ditiup angin. Seorang mahasiswa emabntuku dengan memegangi satu tali yang lain. Aku mulai menarik turun bendera itu. Ya,, aku harus menariknya ke bawah, sampai setengah tiang. Perlahan, kibaran kain itu semakin dekat ke bawah. Namun tanganku langsung terhenti ketika suara keributan terdengar.
“Hentikan sekarang juga1“
Sebuah suara berat membuatku begidik.
“Lanjutkan, Han!“ Suara lain menyemangatiku.
“Saya perintahkan berhenti!“ Aku melirik ke sumber suara. Seorang berbadan tegap menatap tajam. Sementara beberapa mahasiswa tampak berdialog dengannya.
“Turun! Turun!“ Teriak teman-teman yang lain tak mau kalah.
Beberapa polisi yang mengzawasi kami tampakk tersenyum penuh kemenangan.
Kulihat sekali lagi bendera yang tak lagi berada di ujung tiang. Hampir aku menariknya,, tapi kurasakan sebuah benda menempel di punggungku. Dan teriakan takbir kembali menyatu denngan makian dan umpatan.


Karya : Retno Wi