Selamat Datang di Suaraku dan Seperjuanganku
LCD Text Generator at TextSpace.net
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Selamat Datang di Suaraku dan Seperjuanganku. Inilah suara seorang titisan peniti titian cendikiawan muslim yang terpendam dalam kegelapan pusar yang dalam. Berharap perubahan. Menghasilkan kemajuan.
Disinilah suara sastra sang pengubah dijembatankan. Disinilah aku dan suara yang berseru meneriakkan pendaman yang tertumpuk dalam di palung yang termakan congkak dunia.
Walau terminoritas dan tertindas, kita bisa berubah, kita bisa berseru dalam gemuruh yang menjadi satu. Walau hanya gemerutu yang tertumpu, kita bisa berseru, bersatu, tanpa ragu maju dalam ideologi yang terpaku kuat dalam keinginan yang terisirat.
Selamat Membaca.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
>NB : Mohon ma'lum atas kekurangan fasilitas karena gangguan teknis abadi. Kalau ada yang ingin memberikan komentar, masukan, saran, kesan, dan pesan harap kirim ke: adlan.hendarji71@gmail.com
Selasa, 19 Mei 2009
Puisi Untuk Dia
Hanya akan tertinggal di dalam jasad kita ketika kita mati nanti
Seluruh harta yang kita pamerkan
Hanya akan terbungkus tak berguna dengan kain kafan nanti
Seluruh takhta yang kita banggakan
Hanya akan menjadi kenangan yang tak menolong di dalam kubur nanti
Seluruh keluarga harmonis yang kita selalu pertahankan
Hanya akan meninggalkan kita ketika kita telah ditutup dengan tanah nanti
Semua cita-cita yang kita impikan
Hanya akan menjadi sejarah hidup yang memberatkan kita dalam pertanggungjawaban nanti
Tetapi cinta yang kita miliki akan menjadi milik kita nanti
Sekalipun raga ini tidak bernyawa lagi
Karena cinta yang abadi, tidak pernah meninggalkan kita walau kita sendiri
= Adlan Hendarji =
Bekasi.
..Sabtu, 09 Mei 2009
13 Jumadil Awal 1430
Sabtu, 25 April 2009
Pangeran Warna
Akulah yang mengatur warna-warni kehidupan.
Singgasanaku bertahta diatas kanvas yang tergoreskan.
Tanganku bersanding indah diatas seluruh lukisan.
Aku memberikan makna di seluruh perasaan.
Berani dan penuh amarah berlambangkan warna merah.
Suci serta penuh kasih bertiraikan rapih yang berwarna putih.
Tahta kepercayaan yang bersatu terbingkai warna biru.
Alam indah terbentang nan kemilau bersimbolkan warna hijau.
Keanggunan serta mimpi buruk berkabut kelam berwarna hitam.
Masa depan dan kesedihan kelabu bersimbolkan abu-abu.
Misteri terukir rahasia berselimut rancu berwarna ungu.
Kenyamanan, tanah, dan bumi mengikat kuat bertalikan warna coklat.
Optimis dan pengkhianatan yang bersanding warna kuning.
Keseimbangan dan kedahsyatan bermika cermin jingga tua.
Aku bukanlah raja dalam dunia warna jiwa.
Tetapi aku adalah pangeran warna.
= Adlan Hendarji =
Bekasi.
.Ahad, 26 April 2009
30 Rabiul Akhir 1430
Kamis, 19 Maret 2009
Hati yang Tertinggal
Hangatnya Mentari Tak Sehangat Cinta yang Kudekap Sekarang
Suka Duka Silih Berganti.
Ketika Cinta Membawa Harapan.
Ia Berekor Keputusasaan.
Kenapa Saat Aku Mulai Merelakan Apa yang Paling Berharga Dalam Hidupku.
Tak Ada yang Menghargai.
Ya Allah, Mengapa Hanya Hujan Terik yang Menemani Setiap Butiran Mutiara Ini.
Hai Bulan!
Tunjukkan Kharismamu yang Selalau Membawa Kebahagiaan.
Wahai Pemuda!
Kuberikan Seluruh Hatiku Padamu.
Ku Gantungkan Cintaku di Matamu.
= Romyah Bighoiri Romy =
Sabtu, 14 Maret 2009
. 17 Rabiul Awal 1430
Sabtu, 07 Maret 2009
Suara si Hati Kecewa
Izinkan aku mengenal lebih jauh siapakah dirimu.
Berikan aku sepercik cahaya dari kandil-kandil terang hatimu.
Biarkan aku menyentuh tembok megah istana hatimu yang tak tersentuh.
Jangan jadikan detik-detik detak jantungku menjadi tetesan pasir terdesir yang hilang ditarik ombak kekecewaan.
Engkau bagai Bidadari Titian Titisan Keindahan Bayangan Angkuh Sang Rembulan.
Maha dewi yang tak pernah mau menampakkan keindahannya di siang hari.
Maha karya yang selalu menemani rintihan hati yang sepi di malam hari.
Puteri malam yang selalu menyelimuti dari tusukan hawa dingin kesepian ini.
Wahai gadis bermata intan yang tak pernah pudar.
Hari itu ketika akhirnya ku telah mendapatkanmu.
Beribu saksi menyaksikan pelepasan diri dari orang tuamu menuju pelukan aman jiwaku.
Mahar indah berkemilau emas nan tersusun rapih kuberikan untukmu.
Janji panji serta salam setia telah kau lakukan semua hari itu.
Ku remukan tulangku untuk mencari nafas kehidupan kita dari gegap gelap gemerlap dunia yang mencakar kulit kita.
Agar kita dapat mengendarai rakit dalam menerjang ombak waktu yang menggulung tingginya.
Tapi itu semua sudah menjadi kelopak bunga layu yang tersiram lumpur pahit kesengsaraan.
Kini semua tinggal kenangan tak berarti yang memilukan.
Ladang cinta dan kesetiaanku digerogoti hama ketamakan jarum hatimu.
Bingkai figura lukisan ayu terindah yang terhias sapihan keringat kini usang dilapuki debu kelabu egoismu.
Janji panjimu kini hanya formalitas basi tak terkuak yang menjamur di lensa hatiku.
Salam hormat setiamu hanya sebuah kesan sesaat dan kaku terjerat di segala kenanganku.
Wahai gadis bermata intan yang tak pernah pudar.
Kini ku tinggal sendiri bagai kertas berkain lusuh terlampir di atas tempat tidurku.
Ku tak menahu kapan ku akan dibaringkan di dalam lubang 2x1 meter.
Kecewa bercampur duka terpaku dalam ketika kutahu sang intan tak berada di sebelahku.
Seluruh sanak kerabat mengelilingiku seolah mengantar pergi kepergianku.
Malaikat membisikkan kalimat syahadat berada di sebelah telinga kananku.
Iblis jahat penjerumus manusia berbisik bujuk busuk di sebelah telinga kiriku.
Malaikat Izrail telah siap mengelus ubun-ubun ujung kepalaku.
Kini ku sudah siap menjadi kapas bertanamkan duri tajam.
Ku turuti segala ajakan malaikat untuk mengucapkan 2 kalimat syahadat.
Ku turuti segala ajakan malaikat untuk memaafkan seluruh kesalahan orang-orang termasuk sang intan yang tak pernah pudar.
Tiba waktunya, lonceng hatiku berdentang, seluruh tubuhku berkejang meradang.
Kedua pahaku berkepit menyatu, gigiku keras menggerutu.
Panas, dingin, sesak nafas hebat menerjangku.
Ketika nyawa telah sampai di tenggorokan, ku melihat sang intan membuka pintu bangsal dan menghampiriku.
Tapi itu semua sia belaka.
Ku telah menutup mata.
= Adlan Hendarji =
Bekasi.
.Sabtu, 07 Maret 2009
. 10 Rabiul Awal 1430
Jumat, 16 Januari 2009
Maaf Dari Sahabat
Karya : Adlan Hendarji
Sahabat…
Ingatkah engkau ketika pasir masih menemani kita
Mengarungi hidup dengan gembira
Di atas samudra dunia yang gegap gempita
Ombak cobaan nan-menggulung tingginya
Tetapi, kita tetap saling bergenggaman tangan bersama
Dengan berlayarkan rasa setia
Dengan pedang kita hunus perbedaan diantara kita
Dengan dayung cinta kita hampiri dermaga cobaan berikutnya
Dengan tali kita saling mengisi
Mengikat kepercayaan diantara kedua sisi
Saling menyemangati hingga masuk kedalam hati sanubari
Tak akan kulupakan semua histori
Hingga liang kubur kan meremukkan tubuhku nanti
Sahabat...
Aku sadar
Aku khilaf
Aku memohon maaf
Karena
Kini raga tak seperti dulu
Karena
Kini semangat tak berkobar besarnya layaknya waktu itu
Aku yang tak berdaya duduk terngiang di atas kursi goyang
Menunggu tenang ajalku datang
Sebelum ku mati
Sebelum ku menyesal nanti
Aku datang kepadamu
Dalam simpuhku aku luruh
Menyadari semua kesalahanku
Aku kesini bukan untuk meminta maaf
Aku kesini hanya untuk menyampaikan maaf
Dari hati yang penuh sadar
Yang kini hanya tinggal menunggu kabar
= Adlan Hendarji =
Bekasi.
.Jum'at, 16 Januari 2009
. . . . 19 Muharram 1430

